BERCERITA


Abian Wicaksono. Itu nama gua, nama yang diberikan bapak persis setelah gua lahir. Gua bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, hidup bermewah-mewah tentu saja bukan hobi gua. Tapi gua sangat merasa kaya dengan hadirnya banyak teman dalam hidup gua. Riki, salah satu sahabat yang gak mungkin bisa gua lepaskan begitu saja, dia sahabat gua sejak di sekolah dasar hingga kini kami sudah bekerja pun kami tetap bersama. Ya walau banyak yang meledek kami sebagai seorang ‘gay’, ahh masa bodo dengan mereka yang tak tahu cerita tentang kita.
Suka duka selalu kami lewatkan bersama, ingat waktu gua kelaparan dan ga punya uang jajan, gua pasti akan pulang ke rumah Riki untuk minta makan dan begitu pun sebaliknya. Sejak sekolah dasar sampai kuliah kami selalu bersama dan akhirnya harus terpisah setelah kami memutuskan untuk bekerja di perusahaan dengan bidang yang berbeda. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk tetap bertemu, karena memang jarak rumah kami yang tidak terlalu jauh.
“Bian, gua nebeng lo dunk ke kantor, motor gua ga ada bensin duit menipis nih” terdengar suara seseorang diseberang telepon, yang ga lain adalah Riki yang sudah tidak asing lagi aku dengar rengekannya.
“Ah biasa bgt lo, tiap pagi gua jemput lo kaya pacar aje. Gajian masih seminggu lagi nih” jawabku yang pasti tidak di acuhkan oleh nya.
“Gajian pizza menanti coy”
Ah paling bisa nih Riki nyogok gua kalau udah ogah-ogahan anter jemput dia ngantor. Untung aja rute kantor kami searah dan kebetulan banget kantor gua lebih jauh dari dia, jadi pasti bilangnya ‘sekalian lewat’. Ah elah ngeresein banget nih sahabat gua yang satu ini.
“15 menit gua sampe rumah lo. Pizza 2 loyang khusus gua” jawab gua yang langsung meluncur ke rumahnya.

---------------------------------

Sampai kantor gua langsung menyalakan AC ruangan ke suhu yang cukup dingin. Huh rasanya badan pada sakit, pegel, mungkin sudah lama juga gua ga olahraga walau hanya sekedar jogging pagi tiap minggunya. Ya dua bulan ini gua sibuk banget sama kerjaan sampai-sampai lupa untuk istirahat full di rumah, bahkan gua kayanya lupa rasa masakan rumah. Gua kerja di perusahaan advertising, perusahaan yang dimana waktu itu sangat berharga sampai-sampai bisa lupa sama waktu itu sendiri. Dari dulu gua emang suka sama design, bergadang semalaman sih udah lewat deh, udah biasa banget gua bergadang demi sebuah design,  apa lagi kalau dapat customer yang ga pernah ngerti design. Mereka menganggap kami Tuhan yang mengerti apa mau nya mereka dan ga menjelaskan secara detil tentang konsep apa yang mereka mau. Setelah selesai design baru customer-customer itu mengeluh dan meminta kami untuk merombak ulang design pesanan mereka. Hah jadi hati-hati aja kalau lo pada kerja di perdesignan dan customer lo adalah cewe, ya lo harus mengerti apa mau nya mereka. Hahahaaa.
“Bian, tadi nganterin pacarnya dulu yak ke kantor?” pertanyaan yang ga asing gua dengar dari salah satu teman kantor gua.
“Ah bawel lo, ntar ga gua kasih kopi lo” jawab gua sekenanya.
“Hahahaa gue bawa kopi sendiri. Kenapa lagi si Riki motornya?”
“Biasa bensin nya abis katanya gajian masih lama duit dia udah menipis. Eh Tang, sabtu or minggu jogging yuk, udah lama gua ga jogging”
“Manggil nama gue yang lengkap napa, Bintang gitu. Tang-tang gak enak banget gue dengernya” jawab Bintang yang kesal sekali kalau dipanggil dengan sebutan ‘Tang’
“Lha nama lo kan emang Bintang jadi wajar aja kalau gua manggil lo Tang. Mau ga lari pagi sabtu or minggu besok?”
“Oke, ajak si Riki sekalian tuh biar biasa ke kantor lari ga usah bawa motor lagi, hahhaaa” jawab Bintang yang disambut oleh tawa kami berdua.
Bintang Mahaputri, cewe berhijab ini unik. Dia teman gua dikerjaan sejak dua tahun yang lalu kami trening bersama di perusahaan advertesing ini. Dia teman cewe pertama yang benar-benar bisa dekat sama gua yang notaben nya pemilih dalam berteman. Gua nyaman dekat dia, nyaman juga kalau curhat sama dia, semua nya gua ceritain ke dia dari yang gua suka sama cewe di kantor sampe gua nembak tapi ditolak, sampe ke mimpi basah sama siapa juga pernah gua ceritain ke dia. Bintang pasti langsung ngakak kalau denger curhatan gua yang aneh-aneh dan langsung istighfar kalau gua cerita udah melenceng ke arah porno atau su’udzon sama orang.
Masukan-masukan alias saran kritik dia tuh membangun banget, makanya gua nyaman dan nyambung kalau cerita sama dia, dia ga egois kalau kasih saran. Tapi sayangnya dia jarang curhat sama gua padahal gua pengen banget dia curhat ke gua ya tentang gebetannya atau apa gitu. Oia satu lagi yang gua kagum dari Bintang, dia itu ga jelek, manis malah iya, tapi yang gua heran dia sampe sekarang belum punya pacar. Gua kagum aja liat cewe manis yang gak centil dan pecicilan kaya cewe-cewe kebanyakan. Bukan karena ga ada yang suka si, di kantor juga ada beberapa yang suka sama dia tapi dia lebih memilih untuk berteman.
Pernah sekali dia curhat tentang mantan pacarnya yang putus karena jarak pacaran yang jauh dan juga karena perselingkuhan sang cowo. Dari situ gua bisa menyimpulkan bahwa Bintang seorang wanita yang setia, karena dia belum bisa move on sampai sekarang. Hahaha. Kadang gua gedeg aja kalau denger dia belum bisa move on dari mantannya itu, kan dia banyak yang suka. Dia juga sosok yang cukup supel menurut gua, gampang berbaur dan asik kalau ketemu orang baru. Makanya dia langsung kenal dekat sama sahabat gua si Riki itu. Bintang itu feminim tapi ga menutup kemungkinan dia tiba-tiba bisa jadi sangat laki disaat dia mau. Yah namanya wanita ‘moody’an.
Lha kenapa jadi cerita tentang Bintang?
Engga, gua ga suka ko sama dia. Cuma ya karena setiap hari ketemu wajar lah kalau yang gua ceritain terus dia tuh cewe aneh.

----------------------------------

Komentar